Beranda / Mitragama / Konsultasi Penelitian

Konsultasi Penelitian

Kami sudah terbiasa mendampingi mahasiswa, baik S1, S2 maupun S3, dalam melakukan penelitian dengan memberikan berbagai arahan yang diperlukan agar mereka mampu mendapatkan data yang tepat dan dapat digunakan untuk melakukan analisis sesuai dengan proposal yang mereka susun sebelumnya. Kami membantu mereka dalam menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk penelitian lapangan sehingga data yang diperoleh dapat memenuhi standar validitas ilmiah.

Konsultasi akademik pada tahap penelitian ini sangat penting mengingat banyak kasus menunjukkan bahwa mahasiswa, baik S1, S2 maupun S3, tidak mampu memperoleh data yang diinginkan sesuai dengan topik, judul, rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, kerangka pemikiran atau konsep penelitian maupun aspek-aspek metodologis yang digunakan dalam penelitian. Akibat dari berbagai kelemahan ini, mereka umumnya mengalami banyak kesulitan melakukan analisis dan pada gilirannya proses penyusunan skripsi, tesis atau disertasi tidak dapat segera selesai.

Oleh karena itu, kami selama ini hadir dengan maksud khusus untuk membantu mahasiswa S1, S2 maupun S3 dalam melakukan penelitian lapangan dengan cara yang tepat sehingga mereka pada akhirnya dapat menghasilkan data penelitian yang tepat pula untuk keperluan analisis pada tahap selanjutnya.

Mau konsultasi akademik? Hubungi: 081331977939 (WA)

Tips Melakukan Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data sesuai dengan paramater dan indikator dari konsep-konsep di bawah kerangka teori tertentu. Data yang dicari dan dikumpulkan harus berada di atas garis “menjawab pertanyaan penelitian” dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Di sinilah letak pentingnya konsistensi dalam proses penelitian, yaitu data harus dicari dan dikumpulkan dengan pedoman proposal penelitian yang sudah disusun sebelumnya.

Pertimbangan konsistensi harus selalu diingat sepanjang proses penelitian lapangan agar data yang dicari dan dikumpulkan tidak kehilangan konteks. Jika mahasiswa S3 mencari dan mengumpulkan data tanpa memperhatikan rambu-rambu yang telah dirumuskan dalam proposal, ia cenderung akan kehilangan arah dan berdampak tidak mampu mengumpulkan data penelitian yang tepat dalam jumlah yang memadai.

Walau ia dapat mengumpulkan data dalam jumlah banyak, jumlah ini seringkali tidak bermanfaat karena banyak data akhirnya terbuang sia-sia akibat tidak adanya kesesuaian dengan kriteria data yang sebenarnya dibutuhkan untuk keperluan analisis pada tahap selanjutnya.

*****

Mahasiswa S3 yang kurang berpengalaman melakukan penelitian lapangan cenderung kurang mampu mempersiapkan diri sebelum turun ke lapangan. Akibatnya, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan di lapangan. Dalam banyak kasus, masa penelitian yang kadang memerlukan waktu berbulan-bulan lebih berarti sebagai masa “pulang kampung”, masa istirahat dari berbagai pengalaman stres selama proses penyusunan proposal di kampus, masa “bersenang-senang” karena dapat berkumpul dan mengombrol dengan rekan-rekan kerja di kantor, masa “bekerja sampingan” untuk mengisi kas yang sudah kosong dengan proyek-proyek antara, dan lain sebagainya.

Dengan berbagai kegiatan alternatif seperti itu, masa penelitian seringkali tidak efektif, bahkan cenderung terbuang sia-sia. Keefektifan kegiatan penelitian ini menjadi semakin rendah ketika mahasiswa S3 sebenarnya belum siap dengan kuesioner uang harus mereka sebarkan, belum siap dengan daftar periksa (checklist) observasi yang harus segera dibawa untuk turun ke lapangan, belum siap dengan daftar pertanyaan yang memadai untuk melakukan wawancara mendalam atau bahkan untuk mengadakan FGD, belum siap dengan berbagai surat penelitian resmi yang harus diserahkan sebagai perizinan kepada berbagai instansi yang terkait, dan lain-lain.

Selain itu, keefektifan kegiatan masa penelitian juga menjadi semakin rendah ketika mahasiswa S3 terbentur dengan prosedur birokrasi dan tidak mampu bertemu dengan informan kunci untuk melakukan wawancara atau untuk menyebarkan kuesioner. Benturan dengan prosedur birokrasi yang kaku dan impersonal sering membuat ia patah semangat karena menyadari betapa sulitnya melakukan penelitian dalam rangka mencari dan mengumpulkan data di lapangan.

Mau konsultasi akademik? Hubungi: 081331977939 (WA)

*****

Rendahnya keefektifan kegiatan masa penelitian tersebut pada dasarnya diakibatkan oleh ketidaktahuan peneliti tentang apa yang perlu dicari dan dikumpulkan di lapangan. Ketidaktahuan ini berakar lebih mendalam lagi pada ketidaktahuan tentang jenis-jenis data seperti apa saja yang dapat dikumpulkan dalam masa penelitian yang terbatas dan apa yang dapat dilakukan tatkala menghadapi kendala-kendala yang menyebabkan ia terkesan vakum dan tidak ada sesuatu pun kegiatan lain dapat dilakukan ketika ia menghadapi kendala jalan buntu.

Pada dasarnya ada banyak hal dapat dilakukan ketika berbagai kendala menyebabkan peneliti seolah-olah tidak dapat berbuat apa-apa ketika proses penelitian sedang berhenti. Kegiatan paling utama yang dapat dilakukan pada masa-masa kebuntuan seperti itu adalah melakukan analisis bertahap secara imajinatif di tengan ketersediaan data yang kelihatannya sangat terbatas.

Jika mahasiswa S3 memang memahami benar hakikat proposal disertasi dan analisis disertasi, maka analisis data sudah dapat dilakukan sejak pertama kali peneliti turun ke lapangan. Pada tahap pertama, ketika turun ke lapangan, langkah paling utama adalah dengan melakukan observasi, lalu membuat catatan-catatan di lapangan. Catatan-catatan ini berhubungan dengan berbagai aspek dari objek penelitian yang diamati dan/atau teramati, khususnya aspek-aspek yang berhubungan dengan butir-butir yang telah dimasukkan ke dalam daftar periksa (checklist) observasi yang telah disusun berdasarkan paramater dan indikator dari konsep-konsep yang telah ditetapkan di bagian landasan teori dan kerangka pikir atau kerangka konsep penelitian untuk mencapai tujuan penelitian.

Dengan pemahaman tentang objek penelitian yang terefleksi dalam catatan-catatan lapangan tersebut, mahasiswa S3 dapat memulai menyusun analisis dengan mengalisis data berbasis observasi dan memasukkannya ke dalam bagian-bagian atau sub-sub bagian dari sistematika penulisan pada bab hasil penelitian dan pembahasan yang telah dirumuskan sebelumnya. Analisis ini dilakukan terhadap semua data hasil observasi, hasil wawancara, hasil penyebaran kuesioner, hasil dokumentasi, dan lain-lain. Analisis ini dilakukan melalui dua cara, yaitu secara teoretis empiris dan secara imajinatif.

*****

Banyak mahasiswa S3 tidak mampu melakukan analisis secara bertahap jika pengumpulan data belum selesai secara keseluruhan. Seolah-olah muncul bayangan dalam pikiran mereka bahwa jika data sudah terkumpul semua, maka analisis data baru dapat dilakukan secara memadai.

Namun, tendensi seperti itu menyebabkan masa penelitian benar-benar tidak efektif. Padahal, ia dapat segera melakukan proses analisis di sepanjang proses penelitian. Analisis teoretis empiris dilakukan terhadap data apa pun yang sudah berhasil diperoleh dari lapangan, baik berupa data hasil observasi, hasil wawancara, hasil survei maupun hasil dokumentasi. Data ini dianalisis sesuai dengan parameter dan indikator dari konsep-konsep tertentu dalam kerangka teori yang telah dirumuskan di bagian proposal . Proses ini sering disebut sebagai verifikasi empiris.

Sementara itu, analisis imajinatif dapat dilakukan sejak awal penelitian lapangan dengan menjawab sendiri secara esai berbagai pertanyaan penelitian yang telah disusun sebagai pedoman wawnacara, yang dikombinasikan atau bahkan diintegrasikan bersama data hasil penelitian lapangan. Jawaban-jawaban imajinatif pribadi terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah disusun sebelumnya merupakan jawaban-jawaban prediktif tentang apa yang kira-kira disampaikan oleh informan kunci jika pertanyaan-pertanyaan tersebut disampaikan kepada mereka. Jawaban-jawaban imajinatif ini akan menjadi jiwa utama analisis dan sifatnya lebih terpadu dan hidup jika jawaban-jawaban tersebut tersebut telah diintegrasikan dengan data empiris hasil penelitian, baik hasil observasi, hasil wawancara mendalam atau melalui FGD, hasil survei maupun hasil dokumentasi.

Dengan kemampuan analisis teoretis-empiris dan imajinatif tersebut, mahasiswa S3 akan mampu memanfaatkan masa penelitian lapangan dengan cara yang sangat efektif. Ketika ia sudah terkendala dengan berbagai urusan seperti kendala birokrasi akibat masih sibuknya informan penelitian, peneliti dapat beraktivitas dengan cara melakukan analisis teoretis-empiris dan imajinatif.

Mau konsultasi akademik? Hubungi: 081331977939 (WA)

*****

Dalam penelitian doktoral, penelitian lapangan melalui observasi harus dioptimalkan dengan melakukan berbagai pengamatan terhadap berbagai aspek penting dari objek penelitian. Setiap aspek yang dirasakan penting untuk mendukung analisis pada tahap-tahap berikutnya harus dicatat secara umum maupun mendetail.

Catatan-catatan ini diberi tanggal yang jelas dan diberi keterangan tertentu secukupnya untuk memperjelas apa maksud dari data catatan-catatan lapangan tersebut dan apa relevansinya dengan topik penelitian serta dengan sistematika penulisan yang sudah disusun untuk mengkerangkakan bagian analisis. Catatan-catatan ini nantinya akan menunjukkan catatan tentang berbagai aspek dari objek penelitian yang berurutan dari waktu ke waktu sepanjang proses penelitian.

Catatan-catatan itu bisa terbentuk menjadi catatan-catatan perjalanan yang berurutan dan terarah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan penelitian jika catatan-catatan tersebut dibuat sesuai dengan daftar periksa (checklist) observasi sesuai dengan paramater dan indikator dari konsep-konsep utama dalam landasan teori dan kerangka pikir atau kerangka konsep penelitian.

Catatan-catatan perjalanan ini dapat membentuk dokumen catatan perjalanan observasi dalam jumlah yang sangat banyak, bahkan bisa mencapai ratusan halaman, hingga akhirnya dapat dikatakan sebagai bahan analisis pada tahap selanjutnya. Semakin banyak data hasil observasi berupa catatan perjalanan, semakin mudah pula mahasiswa S3 untuk melakukan analisis dengan temuan penelitian yang memadai.

*****

Data yang dikumpulkan dari wawancara mendalam atau FGD memiliki karakteristik yang berbeda. Data hasil wawancara idealnya direkam, sehingga ada bukti otentik bahwa mahasiswa S3 benar-benar telah melakukan penelitian lapangan dengan mewawancarai informan. Tanggal kunjungan untuk wawancara harus dicatat, nama informan, dan jawabannya juga harus dicatata walau nantinya dalam presentasi data nama tersebut disebutkan dengan inisial, dan jika mungkin, lokasi wawancara disebutkan untuk mendukung atau memperjelas siapa sebenarnya informan yang diwawancarai.

Dalam banyak kasus, hasil wawancara yang sudah direkam dan ditranskripsi dan belum ada intervensi sama sekali, masih mentah, dan belum siap untuk dianalisis. Bagi sebagian dosen pembimbing, data verbatim yang masih asli tersebut tetap dicantumkan sebagai lampiran dan kutipan-kutipan yang nantinya diambil dari hasil wawancara seperti itu dibiarkan seperti apa adanya untuk menunjukkan keaslian hasil penelitian. Namun, bagi sejumlah dosen pembimbing yang lain, data verbatim yang masih murni tersebut perlu direduksi terlebih dahulu dengan memilah-milah dan memilihnya sesuai dengan tujuan penelitian. Fungsi reduksi dalam data hasil wawancara ini adalah memperjelas maksud dari informan melalui kutipan-kutipan yang sudah dihaluskan tanpa mengurangi makna yang dimaksud.

Teknik penyajian data hasil wawancara seperti ini juga bertujuan mempermudah pembaca dalam memahami apa maksud informan dan apa maksud kutipan tersebut dalam konteks analisis yang lebih luas. Wawancara tersebut perlu dilakukan dengan orang-orang yang memiliki relevansi dengan topik penelitian dan mereka harus merupakan informan kunci dengan latar belakang yang bervariasi. Tujuannya adalah agar hasil wawancara benar-benar valid melalui teknik triangulasi yang memadai dan dapat dijadikan sebagai bahan analisis dengan temuan penelitian yang andal.

Seperti halnya data observasi, data hasil wawancara juga perlu diklasifikasi dan didokumentasi sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah dibuat berdasarkan paramater dan indikator dari konsep-konsep utama yang telah dirumuskan sebagai landasan teori dengan lingkup kerangka pikir atau kerangka konsep penelitian dalam proposal. Jumlah data ini harus cukup banyak agar dapat mendukung data observasi dengan analisis yang andal.

Mau konsultasi akademik? Hubungi: 081331977939 (WA)

*****

Dalam penelitian kualitatif, data hasil survei sangat diperlukan jika data angka memang diperlukan, khususnya untuk mengukur persepsi informan yang dijadikan sebagai responden. Data hasil survei ini diuji dengan garis logika yang konsisten dengan daftar periksa (checklist) observasi dan daftar pertanyaan wawancara, sehingga hasil survei tersebut benar-benar dapat digunakan untuk memperkuat data hasil observasi dan wawancara. Presentasi dan analisis data hasil survei tersebut dapat berupa angka-angka statistik ang menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh atau berupa angka-angka deskriptif yang hanya dimaksudkan untuk memperjelas atau memberikan ilustrasi angka-angka saja.

Data survei dengan analisis statistik tersebut sering digunakan jika dosen pembimbing terdiri dari dosen-dosen yang berlatarbelakang metodologis berbeda, dimana dosen yang satu ingin menerapkan metode kualitatif dan dosen yang lain ingin menggunakan metode kuantitatif. Pilihan ini adalah pilihan kompromi dan pilihan ini tetap tidak bermasalah sepanjang hasilnya tidak kontradiktif serta dapat disepakati oleh dosen-dosen pembimbing dan/atau penguji dengan tradisi-tradisi metodologis yang berbeda-beda.

*****

Akhirnya, data dokumenter sangat diperlukan, khususnya untuk memperkuat data hasil observasi dan wawancara, dan kadang hasil survei. Data dokumenter dapat berupa berita, artikel, makalah, baik termuat di media cetak maupun elektronik, berbagai dokumen peraturan perundang-undangan, dokumen yang tersimpan atau dimiliki oleh lembaga-lembaga yang terkait dengan topik penelitian maupun berupa gambar seperti diagam maupun foto yang diambil dari berbagai sumber.

Dokumen seperti itu berfungsi untuk memperjelas maksud dari data hasil observasi, wawancara, atau survei. Artinya, dokumen-dokumen tersebut bersifat melengkapi atau komplementer. Dalam penyajian data hasil penelitian, data dokumenter memberikan variasi presentasi data sehingga analisis data yang disajikan lebih menarik karena tidak monoton. Data dokumenter yang diambil dari berbagai sumber umumnya sangat penting sebagai basis historis yang mendukung data hasil penelitian empiris. Dalam banyak kasus, data seperti itu dapat memberikan konteks historis dari analisis data, sehingga presentasi data lebih integral dan komprehensif.

*****

Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa S3 perlu disiapkan dengan matang agar mereka benar-benar mampu mengumpulkan data yang diperlukan untuk analisis pada tahap selanjutnya. Dengan memahami berbagai jenis data dan teknik pengumpulan data, mereka mampu mengisi masa penelitian secara efektif dengan hasil penelitian yang optimal.

Jika mereka sampai bertemu dengan berbagai kendala, pemahaman tersebut memungkinkan mereka untuk terus bergerak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan penelitian. Ketika mereka berada di lapangan, mereka harus mampu mengumpulkan berbagai data, setidaknya berbagai jenis catatan lapangan. Jika mereka sedang mengalami kebuntuan dalam mencari dan mengumpulkan data, mereka dapat menulis secara imajinatif dengan memberikan jawaban-jawaban yang bersifat prediktif terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah mereka buat sebelumnya.

Jawaban-jawaban tersebut ditulis, lebih mudah secara manual, sebanyak-banyaknya, sesuai dengan kriteria data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan penelitian. Penguasaan metode dan teknik pencarian serta pengumpulan data di lapangan memungkinkan peneliti memperoleh data yang sangat berkualitas dengan jumlah yang memadai.

 

Firdinan M. Fuad

Konsultan Akademik Mitragama Media

Mau konsultasi akademik? Hubungi: 081331977939 (WA)